Please download to get full document.

View again

of 111
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

EKSISTENSI KESENIAN LENGGER LANANG TUNJUNG BERGOYANG DI DESA GUMELEM KULON KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN BANJARNEGARA SKRIPSI

Category:

Products & Services

Publish on:

Views: 25 | Pages: 111

Extension: PDF | Download: 1

Share
Related documents
Description
EKSISTENSI KESENIAN LENGGER LANANG TUNJUNG BERGOYANG DI DESA GUMELEM KULON KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN BANJARNEGARA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk
Transcript
EKSISTENSI KESENIAN LENGGER LANANG TUNJUNG BERGOYANG DI DESA GUMELEM KULON KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN BANJARNEGARA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh: Puput Agustin Nur Aini NIM PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI TARI FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2015 i MOTTO Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka, apabila kamu sudah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Allah-lah engkau berharap ( QS ; Al- Insyirah : 6-8) Berfikirlah sebelum berbuat, Sehingga tak menjadi fikiran setelah berbuat (Al- Habib Abdurrohman bin Hasan Al- Habsyi) Semua yang kita alami sudah ditentukan oleh-nya, kita sebagai manusia hanya tinggal menjalani, menerima, dan bersyukur (Puput Agustin N.A) v PERSEMBAHAN Skripsi ini aku persembahkan kepada yang terkasih, terbaik, dan terhebat dalam hidup. Bapakku H.M aruf Suswanto dan Ibuku Hj. Mut mainah, yang memberi kasih tanpa ujung, mendoakan tanpa lelah, memberi semangat tanpa jeda, berjuang bak kesatria untuk sang puteri tercinta. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah SWT. Semoga aku selalu menjadi puteri yang mampu membahagiakan dan membanggakan kalian. Amin. Kakak-kakakku mba Yuni dan suaminya mas Tatag yang selalu menasehati dan memberi contoh kepadaku, mba Sulis yang selalu mendengar keluhkesah dan mengingatkanku untuk bisa membahagiakan dan tidak mengecewakan orang tua, mas Teguh dan mba Lusi yang selalu aku repoti selama di Yogyakarta, mas Heri dan mba Hana yang selalu menyemangati, mas Panca kakak ku yang selalu ngajak berantem nyebelin tapi sebenarnya sayang dan perhatian sama aku makasih ya mas. Buat keponakan aku yang lucu dan menggemaskan Haykal, Naiya, Ibrahim, Rafi, Alubna, dan Nafi, tante sayang kalian. Terimakasih buat semua keluargaku telah menjadi yang terbaik, melindungi dalam diam, menyayangi dengan tulus. Darah lebih kental dari air, kita saudara selamanya. Kekasih dan teman terbaik Yunio Adinawan, Yang hadir saat aku jatuh, kamu yang selalu manis seperti kekasih, menjadi pendengar yang baik seperti teman, kadang dewasa dan menasehati seperti kakak, dan kadang manja seperti adik. Yang tidak akan pernah aku lupa dahulu kita pernah sedekat nadi dan pernah vi sejauh matahari namun pada akhirnya Tuhan mendekatkan kita kembali dengan keadaan yang berbeda. Sekarang aku telah menemukan semangat dan kenyamanan itu pada dirimu, semoga kita bisa menjadi kekasih dan teman hidup selamanya. vii KATA PENGANTAR Segala puji hanya bagi Allah SWT atas segala nikmat dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar sarjana pendidikan. Penelitian ini terlaksana atas kerjasama dan bantuan dari pihak yang terkait. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Rochmad Wahab, M.Pd., M.A. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memproses perizinan penelitian untuk keperluan skripsi. 2. Prof. Dr. Zamzani, M.Pd., Dekan Fakultas Bahasa dan Seni yang telah memproses perizinan penelitian untuk keperluan penyusunan skripsi. 3. Drs. Wien Pudji Priyanto DP, M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Seni Tari. 4. Dr. Sutiyono, M.Hum dan Dra. EndangSutiyati, M.Hum., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dari awal proses skripsi sampai proses penelitian skripsi. 5. Suryanto, selaku pendiri paguyuban Lengger Lanang Tunjung Bergoyang yang telah membantu dalam proses penelitian skripsi. 6. Pemerintah daerah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah yang telah mendukung dalam proses penelitian. viii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... PERSETUJUAN.. PENGESAHAN... PERNYATAAN.. MOTTO... PERSEMBAHAN KATA PENGANTA DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN ABSTRAK... i ii iii iv v vi viii x xiii xiv xv BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah. 1 B. Fokus Masalah... 4 C. Rumusan Masalah.. 4 D. Tujuan Penelitian... 5 E. Manfaat Penelitian. 5 BAB II KAJIAN TEORI... 7 A. Kerangka Teori Eksistensi 7 x 2. Kesenian Tradisional Seni Tari Lengger B. Kerangka Berfikir Penelitian Yang Relevan.. 15 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian B. Setting Penelitian C. Objek Penelitian. 18 D. Subjek Penelitian 18 E. Sumber Data Penelitian.. 19 F. Teknik Pengumpulan Data Observasi Langsung Wawancara Mendalam Studi Dokumentasi.. 20 G. Instrumen Penelitian Pedoman Observasi Lapangan Pedoman Wawancara Mendalam Studi Dokumentasi H. Teknis Analisi Data Deskripsi Data Reduksi Data Pengambilan Kesimpulan 23 xi I. Teknik Keabsahan Data Triangulasi BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Kabupaten Banjarnegara Sejarah Kabupaten Banjarnegara Letak Geografis Pembagian Administratif Penduduk Adat Istiadat dan Mata Pencaharian Kesenian Kabupaten Banjarnegara B. Sejarah Kesenian Lengger Lanang C. Perkembangan Kesenian Lengger Lanang D. Fungsi Kesenian E. Pembahasan Eksistensi Dari Tahun 2005 Hingga Sekarang Faktor Yang Mendukung Faktor Kurang Mendukung Pengaruh Budaya Luar BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Gambar 1 : Penari Sugiono Menggunakan Kostum Lengkap Gambar 2 : Riasan Wajah dan Aksesoris Kepala Gambar 3 : Pemusik Lengger Lanang Tunjung Bergoyang Gambar 4 : Penari Lengger Lanang Dalam Acara Hajatan Gambar 5 : Penari Lengger Lanang Dalam Aacara HUT RI Gambar 6 : Penari Lengger Dalam Acara HUT RI Gambar 7 : Penari Lengger Lanang Saat Peresmian Paguyuban Gambar 8 : Penari Lengger Lanang Saat Pelantikan Camat Susukan Gambar 9 : Penari Lengger Lanang Dalam Acara Hajatan Gambar 10 : Penari Lengger Lanang Dalam Acara 1 Suro Gambar 11 : Penari lengger Lanang Dalam Acara Hajatn xiii DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Glosarium Lampiran 2. Pedoman Observasi Lampiran 3. Pedoman Wawancara Lampiran 4. Pedoman Dokumentasi Lampiran 5. Dokumentasi Foto Lampiran 6. Daftar Kesenian di Banjarnegara Lampiran 7. Biodata Narasumber Lampiran 8. Surat-surat Ijin xiv EKSISTENSI KESENIAN LENGGER LANANG TUNJUNG BERGOYANG DI DESA GUMELEM KULON KECAMATAN SUSUKANKABUPATEN BANJARNEGARA Oleh Puput Agustin N.A NIM ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi pada kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di Desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara, khususnya faktor pendukung dan faktor yang kurangmendukung, serta ada beberapa fungsi dari kesenian itu sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Objek penelitian ini adalaheksistensi pada kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di Desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi langsung, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah pengurus paguyuban kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang, penari, pemusik, masyarakat, dan sumber-sumber yang mengetahui tentang kesenian Lengger Lanang. Teknik analisi data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paguyuban kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di Desa Gumelem Kulon memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai hiburan, sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan sosial, sebagai tambahan penghasilan ekonomi pelaku seni dan sebagai pelestari budaya. Beberapa kesenian tradisional kerakyatan dapat dan tidaknya bertahan karena beberapa faktor baik yang mendukung ataupun tidak mendukung, faktor yang mendukung antara lain (1) kesenian ini menggunakan sistem kekeluargaan, (2) pembinaan dilakukan sendiri oleh Suryanto, (3) mendapat perhatian dari masyaraka,t (4) kreatifitas pembina dalam menciptakan variasi. Sedangkan faktor yang kurang mendukung eksistensi kesenian tradisional yaitu (1) kurangnya promosi, (2) kurangnya perhatian dari pemerintah, (3) kurangnya keingin tahuan tentang kesenian tradisional. Pada intinya, kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang ini kurang eksis terutama di Kabupaten Banjarnegara, dapat dikatakan kurang eksis itu terlihat dari beberapa faktor yang sudah disampaikan di atasa. Kata Kunci: Eksistensi, kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang xv 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak dapat terlepas dari berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek kehidupan di dalam masyarakat adalah kebudayaan. Kebudayaan dapat dipengaruhi oleh kegiatan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang berkaitan erat dengan kebudayaan adalah kesenian, baik kesenian modern ataupun tradisional. Kesenian modern adalah kesenian yang bekembang dalam kurun waktu yang singkat dan proses terbentuknya tidak secara turun-temurun. Kesenian tradisional adalah kesenian yang tumbuh dalam masyarakat secara turun-temurun oleh nenek moyang. Proses terbentuknya kesenian tradisional tidaklah singkat, melainkan melalui proses yang panjang. Indonesia memiliki banyak keanekaragaman kebudayaan, suku, bahasa, adat istiadat dan kesenian yang pastinya setiap daerah di Indonesia berbeda-beda. Seperti yang ada di Jawa Tengah yaitu di Karesidenan Banyumas, disana banyak sekali kebudayaan dan kesenian terutama kesenian tradisional. Banyumas memiliki banyak kesenian tradisional yang tersebar di seluruh wilayah Karesidenan Banyumas yaitu Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Banjarnegara memiliki banyak sekali kesenian tradisional yaitu seperti Kuda Kepang, Aplang, Ujungan, Lengger dan masih banyak lagi. 1 2 Pada masa globalisasi seperti sekarang ini kesenian tradisional banyak tergeser oleh perkembangan zaman dan masuknya kebudayaan asing. Faktor lain yang mempengaruhi hal tersebut adalah kurangnya masyarakat sekarang dalam melestarikan dan mengapresiasikan kesenian tradisional. Para pelaku seni di Kabupaten Banjarnegara beberapa tahun belakangan ini mulai peduli dan bangkit untuk melestarikan kesenian tradisional yang mulai tergeser oleh kebudayaan asing, dan salah satu kesenian yang mulai di angkat kembali agar tidak semakin punah yaitu kesenian tradisional Lengger. Oleh karena itu penulis memilih meneliti tentang kesenian tradisional Lengger. Dalam masyarakat Banyumas, arti kata Lengger yaitu berasal dari kata Leng atau lubang perempuan (vagina) dan Angger sebutan untuk anak laki-laki. Sedangkan menurut beberapa seniman Banyumas juga menyatakan Leng berarti lubang dan Jengger yang menandakan sifat kejantanan, namun terdapat perbedaan diantara keduanya, yaitu kedua kata itu diartikan sebagai dikira Leng ning Jengger (dikira lubang ternyata Jengger), artinya dikira perempuan ternyata lakilaki. Istilah ini lebih di prioritaskan pada penari Lengger yang dilakukan oleh penari laki-laki. Lain pula pada persepsi masyarakat yang memiliki faktor agama yang kuat, mereka memahami bahwa kata Lengger merupakan sebuah nasihat Elinga ngger yang berarti Elinga yang menjadi Leng adalah ingatlah. Sedangkan ngger adalah sebutan yang ditujukan pada orang yang lebih muda, mengingat disini ditujukan pada yang Maha Kuasa. Pada awalnya Lengger ditarikan oleh penari laki-laki dan kedudukannya digantikan oleh wanita sejak tahun 1918, karena semakin sulit menemukan anak laki-laki yang memiliki 3 kemampuan untuk menjadi penari Lengger, sedangkan sosok wanita dianggap lebih Luwes dan memiliki daya tarik sensual bagi penonton (www.kebumeninda.blogspot.com/2013/01/ahtm12:1). Di Karesidenan Banyumas kesenian Lengger banyak ditampilkan pada acara pernikahan, HUT Kabupaten, dan acara kesenian lainnya. Namun di Kabupaten Banjarnegara sendiri kesenian Lengger sudah mulai berkurang keberadaannya, mulai dari paguyuban yang dibentuk sampai dengan masyarakat yang ingin mendatangkannya dalam acaraacara tersebut. Ada beberapa kesenian tradisional Lengger di Kabupaten Banjarnegara, salah satunya adalah Lengger Lanang Tunjung Bergoyang yang berada di desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara. Pertama kali Lengger Lanang ini muncul pada tahun 2005 setelah kepunahannya di tahun Arti kata Lanang dalam bahasa Indonesia adalah laki-laki. Oleh sebab itu paguyuban ini menggunakan semua penari Lenggernya dengan penari laki-laki. Lengger Lanang Tunjung Bergoyang didirikan oleh Suryanto. Latar belakang Suryanto mendirikan Lengger ini adalah nguri-uri budaya, yang artinya melestarikan kebudayaan. Selain itu Suryanto menginginkan agar penari Lengger Lanang memiliki wadah tersendiri sehingga penari Lengger Lanang lebih diakui keberadaannya. Pada umumnya Lengger hanya berisi tarian saja, tetapi Suryanto dan para penari Lengger Lanang membuat inovasi baru dengan menambahkan Lawakan pada akhir tarian Lengger. Hal ini bertujuan untuk membedakan antara Lengger Lanang (Lengger Laki-laki) dan Lengger Wadon (Lengger Peremuan), serta menjadi ciri khas Lengger Lanang Tunjung Bergoyang. Lawakan yang 4 ditampilkan berbeda-beda tergantung pada jenis acaranya. Lengger Lanang biasa ditampilkan pada acara seperti hajatan, HUT RI, dan acara kebudayaan di daerah setempat. Pada umumnya masyarakat Banjarnegara mengetahui tentang keberadaan kesenian Lengger. Namun seiring perkembangan zaman, penikmat dan peminat kesenian Lengger mulai berkurang, sehingga eksistensi dari kesenian tersebut mulai dipertanyakan. Berdasarkan hal inilah peneliti ingin mengetahui tentang Eksistensi Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di Desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara. Peneliti berfokus pada eksistensi kesenian Lengger Lanang saja, karena aspek tersebut belum pernah diteliti oleh siapapun. B. Fokus Masalah Adapun Fokus masalah dalam penelitian ini adalah eksistensi kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara. C. Rumusan Masalah Berdasarkan dari latar belakang masalah yang sudah dikemukakan di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan yaitu bagaimana eksistensi kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara? 5 D. Tujuan Penelitian Penelitian dilakukan karena si peneliti memiliki tujuan, dan tujuan penelitian ini yaitu : 1. Mendskripsikan sejarah kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di Desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara 2. Mendeskripsikan perkembangan dan faktor apa saja yang mendukung dan tidaknya eksistensi kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di Desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara 3. Mendeskripsikan fungsi kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di Desa Gumelem KulonKecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara 4. Mendeskripsikan eksistensi kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di Desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara E. Manfaat Penlitian 1. Manfaat Teoritis a. Hasil peneitian ini diharapkan menambah dokumen tentang kesenian Lengger di Indonesia. b. Sebagai dokumen untuk mengembangkan keberadaan kesenian Lengger Lanang Tunjung Bergoyang di Desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara. 6 2. Manfaat Praktitis a. Bagi masyarakat Banjarnegara, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan dan mengembangkan kesenian tradisional disekitarnya. b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh lembaga yang bergerak dibidang kebudayaan untuk dijadikan salah satu kajian yang dapat memberikan masukan serta pengetahuan. c. Bagi mahasiswa Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam upaya peningkatan apresiasi seni pada mahasiswa khususnya dan akademis pada umumnya. 7 BAB II KAJIAN TEORI A. Kerangka Teori 1. Eksistensi Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002:288) mengandung arti keberadaan. Keberadaan berasal dari kata ada yang artinya hadir, kelihatan, atau berwujud. Menurut Achmad Maulana (2011:86) eksistensi adalah keberadaan, wujud (yang tampak), adanya sesuatu yang membedakan antara satu benda dan benda yang lain. Pada dasarnya kata eksistensi berasal dari kata latin Existere, yang terdiri dari dua suku kata yaitu Ex yang berarti keluar dan Istere yang berarti membuat berdiri. Apabila digabungkan Existere memiliki arti apa yang ada, apa yang memiliki aktualitas dan apa yang di alami. Eksistensi tidak bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur dan mengalami perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan individu dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya. Arti istilah eksistensi analog dengan kata kerja bukan kata benda, eksistensi adalah milik pribadi, tidak ada dua individu yang identik. Oleh sebab itu, eksistensi adalah milik pribadi, yang keberadaannya tidak bisa disamakan satu sama lain (http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/22/eksistensi_manusia). 7 8 Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia, eksistensi adalah istilah yang sering dipakai dalam bidang filsafat dan psikologi. Bidang filsafat mengartikan eksistensi sebagai adanya segala sesuatu, dalam arti sempit adanya pribadi atau individu. Selanjutnya dalam bidang psikologi mengartikan eksistensi sebagai kehidupan dan keberadaan. Dengan demikian eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi berarti muncul dalam suatu perbedaan yang harus dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. Kierkegaard menekankan bahwa eksistensi manusia berarti mengambil keputusan yang menentukan hidup, jika tidak mengambil keputusan manusia tidak hidup dan tidak akan bisa bereksistensi dengan manusia lainnya (http//nikokris2008.multiply.com/journal/item/7?&show_interstitial=1&u=%2 Fjournal1%2Fitem). Eksistensialisme adalah suatu aliran filsafat yang pahamnya selalu berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar. Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah 9 kebebasan itu dan bagaimanakah manusia yang bebas itu. Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri. Eksistensialisme paling dikenal melalui kehadiran Jean Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya Human is condemned to be Free atau manusia dikutuk untuk bebas. Artinya, dengan adanya kebebasan maka manusia itu dapat bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah sejauh mana kebebasan tersebut bebas atau dalam istilah orde baru , apakah eksistensialisme mengenal kebebasan yang bertanggung jawab . Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain. Menjadi eksistensialis bukan melulu harus menjadi seorang yang beda dari pada yang lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada di luar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik atau pun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya (http://id.wikipedia.org/wiki/eksistensialisme). 2. Kesenian Tradisional Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976:1088) dinyatakan bahwa tradisi / tradisional adalah segala sesuatu (seperti adat istiadat, kepercayaan, 10 kesenian, upacara, kebiasaan, ajaran, dan sebagainya) yang turun temurun dari nenek moyang. Menurut Drs. Saimin Hp (1993: 1) kesenian merupakan hasil cipta, karya, dan karsa manusia yang dapat dinikmati dengan rasa. Rasa disini ada hubungannya dengan panca indra kita. Seni itu dapat dinikm
Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks