Please download to get full document.

View again

of 49
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

KESATUAN TEMATIK DALAM SURAH-SURAH AL-QUR AN

Category:

Literature

Publish on:

Views: 15 | Pages: 49

Extension: PDF | Download: 2

Share
Related documents
Description
KESATUAN TEMATIK DALAM SURAH-SURAH AL-QUR AN (Analisis atas Pemikiran Amīn Aḥsan Iṣlāḥī dalam Kitab Tadabbur-i-Qur ān) SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam
Transcript
KESATUAN TEMATIK DALAM SURAH-SURAH AL-QUR AN (Analisis atas Pemikiran Amīn Aḥsan Iṣlāḥī dalam Kitab Tadabbur-i-Qur ān) SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam (S. Th. I) Oleh : TRISNA HAFIFUDIN JURUSAN ILMU AL-QUR AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2013 MOTTO S e s u n g g u h n y a A l l a h t i d a k m e l i h a t k e p a d a p e r a w a k a n, k er u p a w a nan (p a n g k a t, j a b a t a n, h a r t a, m a t e r i ) k a m u A k a n t e t a pi A l l a h m e l i h a t k e p a d a h a t i (a k h l a k ) dan p e r b u a t a n (k o n t r i b u s i di t e n g a h - t e n g a h l i n g k u n g a n h i d u p ) k a m u v HALAMAN PERSEMBAHAN Untukmu: Ayahanda Dadang Ahmadi dan Ibunda Dede Wartini Kasih sayang dan cintamu tak akan pernah pudar di hati Adik-adikku, Sri Rahayu, Siti Nur Maryam, dan Muhammad Raihan Senyum, canda, dan tawa kalian selalu menghiasi hari-hari. Siti Nuraini sang tambatan hati kesetiaan dan kesabaranmu menjadi motivasi selama masa studi vi PEDOMAN TRANSLITERASI Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penulisan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987. I. Konsonan Tunggal Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan أ Alif. tidak dilambangkan ب Ba b be ت Ta t te ث Tsa ś es titik atas ج Jim j je ح Ha ḥ ha titik bawah خ Kha kh ka dan ha د Dal d de ذ Zal ż zet titik atas ر Ra r er ز Zai z zet س Sin s es ش Syin sy es dan ye ص Shad ṣ es titik bawah vii Dhad ḍ de titik bawah ض Ta ṭ te titik bawah ط Za ẓ zet titik bawah ظ ع Ayn koma terbalik diatas غ Gayn g ge ف Fa f ef ق Qaf q qi ك Kaf k ka ل Lam l el م Mim m em ن Nun n en و Waw w we ه Ha h ha ء Hamzah apostrof ي Ya y ye II. Konsonan rangkap karena tasydīd ditulis rangkap: ditulis muta aqqidīn متعق ديه ditulis عد ح iddah III. Ta marbūtah di akhir kata 1. Bila dimatikan, ditulis h: ditulis هجخ hibah viii ditulis جسيخ jizyah (ketentuan ini tidak diperlukan terhadap kata-kata Arab yang sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia seperti zakat, shalat dan sebagainya, kecuali dikehendaki lafal aslinya). 2. Bila dihidupkan karena berangkaian dengan kata lain, ditulis t: وعمخ اهلل زكبح انفطر ditulis ditulis ni matullāh zakātul-fitri IV. Vokal pendek (fathah) ditulis a contoh (kasrah) ditulis i contoh (dammah) ditulis u contoh V. Vokal panjang: 1. Fathah+alif ditulis ā (garis di atas) ض ر ة ف ه م ك ت ت ditulis daraba ditulis fahima ditulis kutiba ditulis jāhiliyyah جبههي خ 2. Fathah+alif maqsur, ditulis ā (garis di atas) ditulis yas ā يسع 3. Kasrah+ya mati, ditulis ī (garis di atas) ditulis majīd مجيد 4. Dammah+wau mati, ditulis ū (garis di atas) ditulis furūd فروض VI. Vokal rangkap: 1. Fathah+ya mati, ditulis ai ditulis bainakum ثيىكم 2. Fathah+wau mati, ditulis au قىل ditulis qaul ix VII. Vokal-vokal pendek yang berurutan dalam satu kata, dipisahkan dengan apostrof ااوتم ditulis a antum اعدد نئه شكرتم ditulis u iddat ditulis la in syakartum VIII. Kata sandang Alif+Lām 1. Bila diikuti huruf qamariyah ditulis al- ditulis al-qur an انقران ditulis al-qiyas انقيبش 2. Bila diikuti huruf syamsiyyah, sama dengan huruf qamariyah ditulis al-syams انشمص انسمبء ditulis al-samā IX. Huruf besar Huruf besar dalam tulisan Latin digunakan sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). X. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat dapat ditulis menurut penulisannya ditulis zawial-furūd ذوي انفروض أهم انسىخ ditulis ahl al-sunnahi. x KATA PENGANTAR إ ن ال ح م د ل ل و ن ح م د ه و ن س ت ع ي ن و و ن س ت غ ف ر ه و ن ع ىذ ب بهلل م ن ش ر و ر أ ن ف س ن ب و م ن س ي ئ بت أ ع م بل ن ب م ن ي ه د ه اهلل ف ه ى ال م ه ت د و م ن ي ض ل ل ف ل ن ت ج د ل و و ل ي ب م ر ش د ا. ا ل ل ه م ص ل و س ل م و ب بر ك ع ل ي ح ب ي ب ن ب و ش ف ي ع ن ب و م ى ل ن ب م ح م د و ع ل ى آل و و أص حببو ا أل خ ي بر و م ن ت ب ع ه م ب إ ح س ب ن إ ل ى ي ى م الد ي ن Segala puji hanya bagi Allah swt. yang telah melimpahkan beribu-ribu nikmat dan karunia kepada penulis yang salah satunya terwujud dengan selesainya skripsi ini. Salawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw. yang telah menunjukkan hakikat jalan kehidupan sekaligus memberikan suri tauladan bagi setiap insan di muka bumi. Berkat rahmat Allah swt. akhirnya skripsi yang berjudul Kesatuan Tematik dalam Surah-Surah Al-Qur an: Analisis atas Pemikiran Amīn Aḥsan Iṣlāḥī dalam Kitab Tadabbur-i-Qur ān ini bisa penulis selesaikan. Pada dasarnya, skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Theologi Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis juga berharap semoga skripsi ini menjadi kontribusi dalam dunia akademik UIN Yogyakarta. Meskipun, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis tentunya tidak menafikan peran dari berbagai pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, motivasi, xi saran, dan arahan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini, penulis menghaturkan terima kasih kepada: 1. Ayahanda Dadang Ahmadi dan Ibunda Dede Wartini yang tak henti-henti memberikan kasih sayang, nafkah, pendidikan, nasihat, dan doa, kapan pun serta di mana pun penulis berada. 2. Adik-adik penulis, Sri Rahayu, Siti Nur Maryam, dan Muhammad Raihan yang selalu memberikan senyum keceriaan dalam hidup. Tidak lupa juga kepada seluruh keluarga besar penulis, baik dari pihak bapak maupun ibu. 3. Pihak Kementerian Agama RI, melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren yang telah memberikan beasiswa penuh kepada penulis melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi di Perguruan Tinggi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 4. Prof. Dr. H. Musa Asy arie, M.Ag., selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. 5. Dr. H. Syaifan Nur, M.A., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. 6. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A. dan Afdawaiza, S. Ag., M. Ag., serta Prof. Dr. Suryadi, M.Ag. dan Dr. Ahmad Baidowi, M.Si. selaku ketua dan sekretaris jurusan Tafsir Hadis sekaligus pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi UIN Sunan Kalijaga periode baru dan lama. Begitu pula Mas Amu (Ahmad Mujtaba, S.Th.I, S.E.) yang selama ini membantu adminstrasi TH PBSB. xii 7. Drs. H. M. Yusron, M.A., selaku Dosen Pembimbing Skripsi, yang telah memberikan arahan, bimbingan dan nasihat selama penulis menyelesaikan skripsi ini. 8. Drs. H. Mohammad Yusup, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberikan wejangan sekaligus menyediakan waktunya untuk sekadar mendengar keluhan dan curhatan penulis baik dalam ranah akademik maupun non-akademik. 9. Prof. Dr. H. Muhammad, M.Ag., Dadi Nurhaedi, S.Ag., M.Si. dan segenap dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, yang senantiasa mendewasakan cara berpikir dan sikap penulis. Begitu pula para karyawan Fakultas yang telah memfasilitasi dan memperlancar proses administrasi pendidikan. 10. K.H. Noer Muhammad Iskandar, SQ. selaku pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, beserta seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, khususnya yang berada di Batu Ceper dan Kebon Jeruk. 11. Keluarga Besar Pondok Pesantren Aji Mahasiswa Al-Muhsin, Si Mbah KH. Zainuddin Chirzin, Drs. K.H. Muhadi Zainuddin, Lc., M.Ag, H. M. Anis Masduqi, Lc, Taufiq Ridho, M. Pd., beserta segenap civitas akademik dan non-akademik. 12. Sahabat Niner s, Kang/ Mas/ Bro Fadlul, Babel, Tantan, Zoe, Atho, Faza, Arif, Sukri, Ali, Hasyim, Azhar, Munir, Zuhdi, Mughzi, Hulaimi, Ihya, Najib, Aswar, Adib, Didik, Aji, Said, Anis, H. Lubab, Yafik, Ikhlas, Dafid, Ilzam, Adang, Maghfur, Syauqi, Khalil, Rizki. Mbak-mbak xiii Wonder Woman Yaya, Nikmah, Ika, Faizah, Lila, Izzah, Mila, Rabi ah, Munirah, Kusminah, Inayah, Nunung, Lala, Ita, Yuyun, Nisa, Faiqoh, Azmil. 13. Teman-teman CSS MoRA UIN Sunan Kalijaga. Mulai angkatan 2007 sampai angkatan Terutama Kang A. Ramdhan Kadrat S. Th. I yang telah merekomendasi tema penelitian yang penulis angkat ini. 14. Lovely Siti Nuraini yang selalu setia menemani sekaligus menanti selama penulis melakukan studi di Jogja. Begitu pula Abhel selaku malaikat cinta kami. 15. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan studi S-1 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekali lagi, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Sehingga, kritik dan saran yang bersifat konstruktif amat penulis harapkan. Terakhir, penulis berharap semoga karya tulis ini dapat memberi manfaat baik bagi penulis maupun semua orang, sekaligus mampu memberi kontribusi bagi khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam ranah Tafsir dan Hadis. Amin. Yogyakarta, 10 Juni 2013 Penulis Trisna Hafifudin NIM xiv ABSTRAK Kritik sebagian orientalis terhadap al-qur an, di antaranya tertuju kepada sistematika susunan ayat-ayat dan surah-surah al-qur an. Mereka menganggap bahwa al-qur an merupakan sebuah kitab yang uraian dalam setiap surahnya kacau, sering terjadi pengulangan, bahkan terdapat kontradiksi di dalamnya. Para ulama ahli tafsir kontemporer kemudian berusaha meyakinkan mereka bahwa al- Qur an merupakan kitab yang bagian-bagiannya saling terkait dan melengkapi satu sama lain. Hal ini mereka buktikan dengan merumuskan suatu prinsip tentang kesatuan tematik al-qur an. Salah satunya adalah kesatuan tematik dalam surah-surah al-qur an. Amīn Aḥsan Iṣlāḥī merupakan ulama Pakistan era kontemporer yang memiliki perhatian cukup besar terhadap kesatuan tematik dalam surah-surah al- Qur an. Dalam kitab tafsirnya, Tadabbur-i-Qur ān, Iṣlāḥi mampu menunjukkan keterkaitan antarbagian al-qur an, baik itu antarberbagai persoalan yang terkandung dalam ayat-ayat dalam suatu surah, maupun antara satu surah dengan surah lainnya yang tersusun di dalam al-qur an, dengan konsep amūd sebagai karakteristik dari penafsirannya. Lantas, apa yang membedakan pemikiran dan langkah Iṣlāḥī dengan para ulama lainnya dalam membuktikan kesatuan tematik dalam surah-surah al-qur an, serta apa yang dimaksud dengan konsep amūd dan bagaimana menentukannya, dirasa perlu untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bersifat kepustakaan (library research). Data primer yang dijadikan rujukan adalah kitab tafsir Iṣlāḥī yang berjudul Tadabbur-i-Qur ān. Sedangkan data sekundernya meliputi beberapa kajian yang membahas tentang pemikiran Iṣlāḥī dan kajian tentang kesatuan al-qur an. Dalam mengolah data yang telah diperoleh, penulis menggunakan langkah deskriptif dan analitiskomparatif. Dalam penelitian ini, penulis menemukan bahwa guna membuktikan kesatuan tematik dalam surah-surah al-qur an ini, Iṣlāḥī menawarkan konsep amūd, pasangan surah, dan klasifikasi surah-surah di dalam al-qur an. Dalam konsep amūd, Iṣlāḥī memandang bahwa setiap surah itu memiliki tema pokok yang menyatukan antarbagian ayatnya. Melalui konsep pasangan surah, Iṣlāḥī meyakini bahwa setiap surah itu memiliki pasangan atau kembaran yang berada persis di sampingnya. Iṣlāḥī juga mengklasifikasi surah-surah di dalam al-qur an menjadi tujuh kelompok yang didasarkan atas susunan surah-surah Makkiyah dan Madaniyah. Setiap kelompoknya memiliki amūd sebagaimana dalam setiap surah. Iṣlāḥī menguatkan sekaligus melandaskan hipotesisnya terkait pasangan surah dan klasifikasi surah-surah ke dalam tujuh kelompok ini dengan sebuah dalil, yakni surah al-ḥijr [15] ayat 87 yang ditafsirkan dan sesungguhnya kami telah berikan kepadamu tujuh kelompok surah-surah yang terbentuk saling berpasangan, yakni al-qur an yang agung. Kata kunci: kesatuan tematik al-qur an, amūd, pasangan surah, klasifikasi surah-surah, Makkiyah-Madaniyah. xv DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i SURAT PERNYATAAN... ii NOTA DINAS... iii PENGESAHAN SKRIPSI... iv MOTTO... v HALAMAN PERSEMBAHAN... vi PEDOMAN TRANSLITERASI... vii KATA PENGANTAR... xi ABSTRAK... xv DAFTAR ISI... xvi BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah... 7 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian... 7 D. Telaah Pustaka... 8 E. Metode Penelitian F. Sistematika Pembahasan BAB II. AMĪN AḤSAN IṢLĀḤĪ DAN TADABBUR-I-QUR ĀN A. Biografi Amīn Aḥsan Iṣlāḥī Kondisi Sosial-Politik Anak Benua India Memasuki Abad Kelahiran dan Pendidikan Iṣlāḥī Karier dan Pertemuan dengan Ḥamīd al-dīn Farāhī Iṣlāḥī dan Jamā at-i-islāmī Penyusunan Kitab Tadabbur-i-Qur ān B. Buah Karya Amīn Aḥsan Iṣlāḥī C. Selayang Pandang Kitab Tadabbur-i-Qur ān xvi BAB III. KESATUAN TEMATIK DALAM SATU SURAH A. Kesatuan Al-Qur an dalam Kacamata Para Ulama B. Teori Munāsabah dan Sistematika Al-Qur an C. Kesatuan Tematik dalam Satu Surah Pespektif Iṣlāḥī Konsep Amūd Contoh dan Analisis Amūd dalam Satu Surah BAB IV. KESATUAN TEMATIK DALAM DUA PASANG SURAH DAN KLASIFIKASI SURAH-SURAH DI DALAM AL-QUR AN A. Konsep Pasangan Surah B. Klasifikasi Surah-Surah di dalam Al-Qur an Klasifikasi Surah-Surah Perspektif Para Ulama Klasik Klasifikasi Surah-Surah Perspektif Amīn Aḥsan Iṣlāḥī Kesatuan Tematik dalam Satu Kelompok Surah Identifikasi Surah-Surah Makkiyah dan Madaniyah Gambaran Perkembangan Ajaran Islam C. Landasan atas Konsep Pasangan Surah dan Klasifikasi Surah-Surah BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN CURRICULUM VITAE xvii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kajian kesatuan tematik di dalam al-qur an adalah sebuah kajian yang berusaha membuktikan bahwa al-qur an merupakan kitab yang bagianbagiannya (baca: ayat-ayat dan surah-surah) saling berkaitan dan menjelaskan satu sama lain, serta tidak ada kontradiksi di dalamnya, bagaikan struktur sebuah bangunan yang kokoh. 1 Kajian seperti ini sejatinya telah muncul di kalangan para ulama klasik yang salah satunya adalah al- Khaṭṭābī ( H) dengan kitabnya, Bayān I jāz al-qur ān. Tidak ketinggalan, para ulama ahli tafsir klasik pun seperti Fakhr al-dīn al-rāzī (w. 606 H) telah berusaha menunjukkan aspek kesatuan tematik al-qur an ini dengan mengungkap korelasi antar bagiannya. Hingga akhirnya, pembahasan mengenai korelasi antarbagian al-qur an ini dirumuskan ke dalam salah satu kajian Ulūm al-qur ān yang sering dikenal dengan sebutan ilmu munāsabah. Hal ini merupakan langkah-langkah para ulama klasik dalam membuktikan bahwa al-qur an merupakan kitab yang harmonis antar bagian-bagiannya dan tidak ada kontradiksi di dalamnya. 1 Lihat Amir Faishol Fath, The Unity of Al-Qur an, terj. Nasiruddin Abbas (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm 2 Menjelang abad ke-20, sebagian orientalis berusaha menunjukkan kelemahan al-qur an, dengan menganggap bahwa al-qur an merupakan kitab yang uraian-uraiannya kacau, sering terjadi pengulangan, bahkan terdapat kontradiksi antar bagiannya. Bagaimana tidak, menurut mereka, belum selesai menguraikan satu persoalan, tiba-tiba meloncat ke persoalan lain yang tidak ada kaitannya sedikitpun. 2 Selain itu, ada juga sebagian orientalis yang mengkritik sistematika urutan ayat dan surah di dalam al- Qur an. Seperti dalam buku Bell s Introduction to the Qur an yang dikarang oleh W. Montgomery Watt yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Lilian D. Tedjasudhana dengan judul Richard Bell, Pengantar Qur an dikemukakan bahwa terdapat bukti yang mengemukakan tentang adanya revisi dan perubahan dalam pengumpulan atau peletakan bersama satuan-satuan kecil bentuk asli wahyu yang disampaikan. Bahkan dikemukakan pula bahwa bacaan-bacaan tidak hanya ditempatkan bersama untuk membentuk surah, tetapi juga bahwa ketika telah selesai, terjadi beberapa penyesuaian. Salah satu buktinya menurut Bell adalah muncul rima-rima yang tersembunyi. Terkadang ketika sebuah bacaan dengan satu asonansi ditambahkan pada surah berasonansi lain, frase-frase ditambahkan 2 Seperti dalam surah al-baqarah [1] yang di antaranya menguraikan tentang keharaman makanan tertentu seperti babi, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan ancaman terhadap yang enggan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, kemudian anjuran bersedekah, kewajiban menegakkan hukum, wasiat sebelum meninggal, kewajiban berpuasa, hubungan suami istri, dan seterusnya. Lihat M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiyah, dan Pemberitaan Gaib (Bandung: Mizan, 2007), hlm 3 untuk memberikan asonansi yang belakangan. Contoh yang dihadirkan adalah surah al-mu minūn [23] ayat Menanggapi hal ini, para ulama ahli tafsir kontemporer berusaha meyakinkan para pengkritik tersebut dengan menjelaskan bahwa al-qur an itu merupakan kitab yang saling terkait antar bagiannya dan tidak ada pertentangan. Hal ini mereka buktikan dengan mengembangkan langkahlangkah penafsiran yang telah dibangun oleh para ulama sebelumnya. Salah satunya yaitu dengan membuat prinsip tentang menyatunya ayat-ayat dengan tema pokok surahnya. Dengan kata lain, hal ini membuktikan akan adanya kesatuan tematik dalam satu surah. Di antara ulama tersebut yang memerhatikan prinsip ini adalah Syekh Muḥammad Abduh (w H). Menurut beliau, setiap surah di dalam al-qur an itu menggambarkan kesatuan yang sempurna dan mempunyai kesatuan tujuan atau tema, baik dalam kata maupun kalimatnya. Sehingga, setiap ayat dalam suatu surah akan saling terkait dan mengarah kepada tema surah tersebut. 4 3 Quraish Shihab menyatakan bahwa memang benar ada rima yang berbeda dalam rangkaian ayat-ayat yang ditemukan dalam satu tempat. Hal ini justru membuktikan bahwa al- Qur an bukanlah syair sebagaimana dituduhkan oleh kaum musyrikin terdahulu. Selain itu, hal ini juga berfungsi agar tidak menimbulkan kejenuhan mendengar atau membaca ayat-ayat yang rimanya terus-menerus sama, dan yang lebih penting lagi bahwa pergantian rima tersebut dapat menyentak, sehingga melahirkan perhatian bagi pembaca ataupun pendengarnya terkait pesan yang terkandung dalam ayat yang berbeda rimanya tersebut. Lihat M. Quraish Shihab, Tafsir Al- Mishbāh: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur an, vol. I (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm. xviiixx. 4 Di antara ulama kontemporer lainnya yang sependapat dengan pandangan ini adalah Sayyid Muḥammad Rāsyid Riḍā, Abdullāh Darraz, Maḥmūd Syalṭūṭ, Sayyid Quṭb, Syekh Muḥammad al-madanī, Muḥammad Ḥijāzī, Aḥmad Badawī, Syekh Muḥammad Alī al-ṣābūnī, Sayyid Muḥammad Ḥusain al-ṭabāṭabā ī, Muḥammad Sayyid Ṭanṭawī, Mutawallī al-sya rāwī, dan Sa īd Hawwa. 4 Amīn Aḥsan Iṣlāḥī merupakan salah seorang yang menggarisbawahi pentingnya pembahasan ini. Beliau adalah seorang ulama ahli tafsir Pakistan abad 20. Beliau hidup seangkatan dengan Sayyid Abū al- A lā Maudūdī, seorang tokoh revolusioner Islam di Anak Benua India. Dengan kitabnya, Tadabbur-i-Qur an, beliau berusaha menunjukkan adanya kesatuan tematik di dalam al-qur an. Kitab ini merupakan sebuah kitab tafsir yang disusun berdasarkan prinsip naẓm (koherensi) yang diperoleh dari gurunya, Ḥamīd al- Dīn Farāhī. Menurut beliau, hanya dengan mengetahui naẓm itulah seseorang dapat memperoleh ilmu dan hikmah yang terdapat dalam al- Qur an. Di dalam al-qur an, terdapat banyak uraian mulai dari kehidupan, alam semesta, psikologi manusia, sampai sejarah yang berkaitan dengan tema pokok yang terstruktur dan terdapat dalam surah-surah yang berbeda. Ketika mempelajari al-qur an sebagai sebuah kesatuan, seseorang akan menemukan bahwa setiap surah itu meliputi berbagai persoalan yang berkaitan dengan tema pokok surah tersebut. Seseorang yang mengabaikan aspek koherensi atau kesatuan ini mungkin akan memperoleh beberapa bagian secara terpisah dan tidak mampu mengambil hikmah dari berbagai persoalan yang terangkai dalam suatu surah. Iṣlāḥī juga menambahkan bahwa terjadinya kontradiksi penafsiran atau pemahaman terhadap al-qur an di kalangan umat Islam disebabkan karena mereka (baca: para ahli tafsir) kurang memerhatikan konteks (situasi yang berhubungan dengan pewahyuan ayat atau surah pen.) dan koherensi teks di dalam al-qur an. Jika dalam
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks